Tampilkan postingan dengan label Uncategorized. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Uncategorized. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Desember 2011

Menyerah Pada Sang Cinta


Anna datang dengan nafas tersengal2, terburu2 karena 20 menit lagi dia sudah harus pergi ke John Robert Power untuk mengikuti les kepribadian. Belum sempat dia mengambil apel Australia kesukaannya, ibunya sudah menyambutnya dengan senyum.
"Anna, makan dulu sana, mama sudah siapin bandeng presto buat kamu.., tuh kebetulan mumpung masih anget"
"Mah, nggak keburu....Anna musti nyampe di John Robert Power secepatnya, makasih ya Mah"
"Aduh anak mama ini, cuci muka dulu sana biar seger, rambutnya diiket yang rapi, pake lipstik, dan ganti baju yang bagus, kamu kan mau kursus kepribadian, musti kamu tunjukkan kalau kamu sudah punya kepribadian yang baik."
"Ya mah.....!!!!"
Anna buru2 ke kamarnya, sebuah kamar yang tidak terlalu ruas tetapi tertata sangat rapi, disana sini berjejeran piala dan penghargaan atas semua prestasinya selama ini. Kamar itu dicat warna biru, warna kesukaannya. Dia sangat cinta pada ibunya, memang cerewet tapi Anna tahu bahwa itu semua demi kebaikan Anna sendiri. Setelah cuci muka, langsung dia ganti baju, sekenanya dia ambil baju di dalam lemari warna pink itu. Segera dia turun dan mencium ibunya. "Mah, Anna pergi dulu ya..."
"Lho, mana lipstiknya...koq nggak kelihatan merah...?"
"Nggak sempet Mah, tuh liat, tinggal 10 menit lagi.." Anna memang paling tidak suka memakai lipstik dan alat2 kecantikan yang lain, tapi dia kasihan kalau bilang terus terang sama mamanya.
"Ya sudah, ati2 ya..., belajar yang bener..."
"Makasih Mah, Assalamu alaykum"
Anna segera melesat naik menuju mobil BMW warna biru metalik yang sejak dari tadi menunggunya. Mang Udin sopir pribadinya sudah dari tadi ngetem di garasi. Bu Ratih, ibunya Anna, geleng2 kepala. Dia bangga sekali punya anak gadis seperti Anna, seorang gadis yang sangat aktif dan sangat pandai, tidak suka macam2, dan yang lebih membuat bangga lagi anak gadisnya itu cantik sekali yang mengingatkan Bu Ratih akan masa mudanya dulu. Banyak sekali pemuda yang mengiba cintanya, dan sering dia berkaca untuk melihat sisa2 kecantikannya yang rupanya telah banyak berpindah ke anaknya, si Anna. Kadang bahkan dia iri akan kecantikan anaknya itu, pipinya yang merah muda kalau tersentuh sinar mentari, bibirnya yang kemerahan disertai dengan senyumnya yang manis, rambutnya yang legam, wajahnya ayu, segalanya dipunyai Anna.
Sampai didepan John Robert Power, Anna segera membuka pintu mobil dan langsung menghambur menuju ruang kelas. Gedubraakkkkkk....!!!!! Anna menabrak seorang pemuda yang sedang ngecat pintu masuk, bak berisi cat itupun ngga karu2an mewarnai t-shirt lusuh yang dipakai pemuda itu, belum lagi tumpahan yang berserakan di lantai.

"Astaghfirullah, maaf, maaf, maaf, maaf sumpah saya nggak sengaja, maaf ya
Mas..!!!!, saya terburu2 karena les saya sebentar lagi mulai"
"Bukan salahnya Nona koq, salahnya saya yang nggak kasih peringatan, lagian
pintunya belum diajari ngomong, jadi dia tidak tahu musti ngomong apa ketika
Nona mau buka pintu..., jadi atas nama pintu dan saya meminta maaf "
Pemuda itu bukannya malah marah, tetapi tersenyum dan malah dengan nada
bercanda meminta maaf.
"Perlu saya ganti berapa Mas atas cat sama t-shirtnya Mas yang rusak gara2 saya, maaf sekali lagi. Ini kartu nama saya dan Mas telpon saya ya, ntar saya datang ke tempatnya Mas untuk mbayar ganti kerugian, maaf saya musti pergi sekarang karena sudah hampir mulai"
Pemuda itu bengong, kejadiannya berlalu begitu cepat, sekarang dia tak tahu harus berbuat apa selain harus segera membersihkan semua tumpahan cat sebelum orang lain tahu kalau dia telah menumpahkan cat, yah...gadis itu yang menumpahkannya tapi atas kesalahan dia.
Kriiiiiiiiinggggggggg............
"Non Anna, telpon dari Den Ivan...!!!!!" suara Mbok Rumi dari kamar tamu.
"Ya Mbok, terima kasih ya.."
Mbok Rumi tersenyum, sungguh dia begitu senang bekerja di keluarga itu, dia diperlakukan sangat manusiawi, tidak seperti teman2nya pembantu yang lain. Si Denok, teman mainnya sejak kecil yang ikut merantau ke Jakarta, sering dimarahi sama majikannya, sering dibentak2, itupun setiap bulannya gajinya sering ditunda2.
"Sayang, ntar malem pergi ke Hard Rock Cafe yuk...?" jauh dari telepon suara van, pacar si Anna.
"Mmmmhhh, bukannya aku nggak mau, tapi aku capek sekali, lain kali aja ya..."
Anna merasa seluruh tubuhnya meriang, suhu tubuhnya naik, matanya mulai berkunang2. Burn out....
"Tapi sayang, kamu dateng dong....soalnya aku udah janjian ngenalin kamu ama temen2ku, aku kan malu kalau kamu nggak dateng." Praakkkk.....suara telpon jatuh, Anna pingsan dan terjatuh di lantai.
Keesokan harinya Anna terbangun dan mendapati dirinya sedang di rumah sakit, ada papa dan mama, dan ada satu lagi pemuda kusut yang langsung tersenyum ketika mata Anna menoleh ke dia. Senyum pemuda itu, oh senyum yang begitu damai, memang penampilannya kumal tapi Anna tidak tahu kenapa dia merasa dalam hatinya bahwa pemuda ini bukanlah orang yang jahat.Oh ya, Anna lambat laun ingat, ini adalah pemuda yang kemarin ditumpahin cat, yang baju dan celananya amburadul karena cat itu belepotan di seluruh tubuhnya. Tapi Anna tak begitu peduli, pemuda ini masih orang asing bagi dia.
"Mah, kenapa Anna di sini...?" Anna mulai membuka pembicaraan dengan mamanya
"Kamu kecapaian sayang, dan kamu kemarin bertengkar dengan Ivan, mungkin kamu terlalu memikirkannya."
"Trus dimana Ivan..?"
"Dia tidak mau kemari, dia masih marah sama kamu barangkali.."
"Oh ya, Mas ini katanya punya urusan sama kamu, dia tadi malem telpon tapi kamu sudah di rumah sakit, jadi mama suruh saja datang ke rumah sakit."
Anna segera menoleh ke pemuda lusuh itu.
"Maaf ya Mas, berapa harus saya ganti atas kesalahan saya kemarin..?"
"Itu bukan kesalahan kamu koq, saya datang ke sini justru untuk meminta maaf karena kejadian kemarin, dan ingin menjenguk kamu semoga kamu cepet sembuh"
"Tapi Mas, biarlah saya ganti kerugian kemarin, tidak apa2 koq"
"Terima kasih sekali, tapi memang benar saya tidak dirugikan, saya malah bersyukur bisa kenal sama kamu dan keluargamu, ini ada buku kecil untuk kamu baca selama di sini."
Veronika decides to die.........*, sekilas Anna melihat judul buku kecil itu, pikiran Anna sudah macam2, wong baru sakit begitu saja koq sudah dikasih buku tentang kematian, wah kurang ajar juga pemuda ini. Tapi dia tidak berani bilang, jangan2 .......
"Terima kasih ya Mas"
"Semoga cepet sembuh ya, jangan lupa berdoa pada Allah, saya pergi dulu, saya ada kuliah sebentar lagi, Assalamu alaykum" Pemuda itu ngeloyor pergi dengan senyumnya............................
Anna merasa bosan sekali, sudah sehari semalam dia di rumah sakit. Tidak ada yang memperhatikannya sama sekali kecuali mama dan papanya. Ivan memang benar2 marah karena kejadian malam itu, buktinya sampai sekarang sama sekali belum ada telpon dari dia. Dia teringat pada buku kecil yang dikasih pemuda lusuh itu tadi pagi, perlahan dia membukanya... 
 
Veronika, .....seorang gadis yang punya segalanya, gadis kaya raya dan cantik, gadis pujaan para pemuda, tapi suatu saat dia bosan dengan semuanya itu, karena semua itu tidak membahagiakan dia, batinnya masih kosong........ 
 
"Bagus juga buku ini" pikir Anna, dia merasa disindir, walau tidak semua dalam buku ini cocok dengan situasinya, batinnya tidak kosong seperti Veronika, dan dia tidak ingin mati seperti Veronika, Anna masih ingin banyak berbuat bagi manusia dam kemanusiaannya di dunia ini, tapi ada beberapa yang membuat dia berpikir semalaman. Mengapa pemuda itu begitu perhatian dengan Anna, di saat pacarnya sendiripun tidak perhatian dengan dia..?. Mengapa senyum pemuda itu begitu damai dirasakannya, mengapa..... 
 
Anna telah jatuh cinta, tanpa alasan mungkin. Karena pemuda itu sama sekali tidak ganteng, pemuda itu lusuh, pemuda itu ya dia adalah pemuda biasa.Tapi caranya memperlakukan wanita, cara dia bicara, cara dia tersenyum........belum sempat dia menyelesaikan lamunannya HP-nya berbunyi............
"Assalamu alaykum Anna.."
"Waalaykum salam, dengan siapa ya...?Anna bingung, suara orang yang tak dikenalnya di ujung sana, rupanya di telepon umum atau di wartel karena latar belakang suaranya ribut seperti kendaran bermotor dan orang bincang2.
"Dengan pemujamu, aku Iman yang tadi ngasih kamu buku"
"Oh Mas ya...."
"Udah baikan...?'
"Alhamdulillah, anyway thanks bukunya ya..."
"Sama2, mmmmhhhhh....aku mau ngomong sesuatu semoga kamu nggak marah...."
"Ngomong apa Mas..?"
"Aku telah jatuh cinta denganmu, aku tahu aku bukan siapa2, aku sudah cukup berbahagia bertemu kamu, syukur jika engkau terima, jika tidakpun aku bisa menerima"
Seperti petir menyambar ubun2 Anna, lidahnya seperti tertekuk2, tak tahu harus bicara apa.....Anna pingsan lagi..... 
 
Dalam pingsannya, Anna duduk berdua dengan pemuda itu di taman penuh bunga2 musim semi, berlatar belakang kincir angin.....................tidak ada siapapun di sana kecuali mereka berdua............. 

 
* sebuah roman karangan Paulo Coelho

Rabu, 07 Desember 2011

Ziarah ke Makam Tuhan

Minggu lalu ada undangan takziyah, tapi seperti biasanya karena kesibukanku, aku tidak bisa memenuhi undangan itu. Allah telah wafat, tapi itu sudah kuduga sebelumnya, karena dia sudah lama sakit2an. Aku sendiri tidak begitu perduli, hidup tidaknya tidak terlalu berpengaruh pada diriku.
Maka hari demi hari berlalu begitu saja, sampai hari ini. Dalam rapat redaksi di tempat aku bekerja, aku mendapatkan tugas untuk meliput penyebab kematian tuhan2 itu. Dari meja redaktur tadi, tugas ini harus selesai secepat mungkin, karena deadlinenya minggu ini juga. Dasar nasib, terpaksa malam2 aku blusukan ke kuburan khusus tuhan2. Ya aku anggap sebagai ziarah saja, toh sejak dulu kalau ada undangan takziyah aku gak pernah datang. Bagiku kematian adalah awal dari kehidupan baru, jadi tidak ada yang perlu dijadikan sebab sedih hati.

Kuburan ini gelap gulita, hanya ada beberapa kunang2 yang kelap kelip di beberapa sudut. Angin dingin mulai menusuk kulit dan tulangku, bulu kudukku berdiri. Bukan karena aku takut hantu, tapi karena aku hanya pake kaos oblong, sehingga ujung2 angin itu seenak jidatnya membelai pori2ku. Kubuka pintu gerbang kuburan itu, suara besi yang sudah tua memecah keheningan. Tengok kanan kiri, semakin serem saja kelihatannya. Kukeluarkan lampu senter yang tadi kubawa, kunyalakan, oh tapi ternyata tidak nyala. Wah mati aku pikirku. Ku goyang2 senter itu, sampai bunyi klothak klothak. Kunyalakan lagi, tidak nyala juga. Wah tamat sudah riwayatku, sudah tengah malam lagi. Bagaimana aku bisa melakukan penyelidikan penyebab matinya tuhan2 itu, kalau senter aja aku tidak punya. Padahal peralatan lain sudah aku siapkan semua sebenarnya, untuk penelitian forensik.

“Heh, ngapain loe di sini?”

Aku kaget bukan alang kepalang, sampai terkencing2 di celanaku. Geragapan aku di dalam gelapnya pemakaman itu. Tiba2 ada suara tanpa rupa dan suaranya berat, seperti orang marah. 

“ Eh hmm, anu, anu, saya mau melakukan penelitian tentang kematian tuhan, saya wartawan koran ‘Suara Alam Lain’ . Hhmm, anu kalau boleh tahu, siapa Anda..?”

“ Perkenalkan, aku penjaga kuburan ini.”
Tiba2 tanganku digenggam benda besar, aku diajak salaman rupanya. Spontan aku goyang2kan tanganku sebagai tanda kenalan juga. 

“ Senang bisa berkenalan dengan Anda, jadi Anda mau ketemu tuhan2 itu..?” 

“ Lho koq ketemu, saya mau melakukan penyelidikan, saya mau menyelidiki mayat2 mereka. “ 

“Haahahahaha…OK, mari saya antar”

Dia menggandengku, aku tidak melihat wajahnya karena sangking gelapnya, aku hanya mengikuti saja. Kadang2 kakiku tersandung pathok2 kuburan yang rupanya bertebaran sepanjang jalan yang kulalui. Dari agak kejauhan, aku lihat samar2 ada cahaya, dan suara orang yang sedang bercakap2 dan tertawa2.
Pintu dibuka, wow…mataku seakan2 tidak percaya apa yang dilihatnya, sebuah café lengkap dengan meja pool, dart dan bar, di pojok sana ada layar tv sedang mempertontonkan pertandingan sepak bola. Kukedipkan2 mataku, hanya untuk memastikan bahwa aku tidak sedang bermimpi. 

“ Hey, jangan bengong. Oh ya tadi kita kenalan belum nyebutin nama, aku iblis, ganti profesi akhir2 ini sebagai penjaga kuburan tuhan2. “ 

Aku menoleh, mataku terbelalak, jantungku seperti copot, selangkah aku mundur ke belakang. Terasa celanaku agak basah, aku terkencing2 lagi rupanya, sialan bener. Iblis ini sungguh menyeramkan, grandongnya Mak Lampir pun masih kalah serem. Untung saja tidak dari tadi aku melihat wajahnya, di pelataran kuburan tadi gelap sekali. 

Hahahahahahahahaha…………………………….!!!!!!!!!!!!! 

Seluruh café rupanya menertawakan aku. 

“ Hey iblis, siapa pula yang kau bawa ini, jangan pula kau bilang hasil buruanmu ya…hahahhahaha….” 

Iblis : “ Selamat malam tuhan2 sekalian, ini perkenalkan seorang wartawan dari Koran “ Suara Alam Lain” , mau melakukan penelitian atas kematian tuhan2. Mas Wartawan, saya perkenalkan juga tuhan2 ini kepada Anda, yang lagi main pool itu, Khrisna dan Shang Ti. Yang duduk di bar itu Bapa, Baha’i, dan Cao Dai. Yang di meja itu, dari yang merokok itu adalah Allah, kemudian sebelahnya Waheguru, dan yang diujung itu Ahuramazda. Sebenarnya ada beberapa tuhan lain, tapi mereka sedang nonton sinetron Tersanjung, jadi malam ini tidak hadir.”

Aku : “ Senang berkenalan dengan Anda2 semua. Maaf terus terang saya kaget, saya datang untuk menemukan penyebab kematian Anda2 sekalian, tapi malah menemukan Anda sedang kongkow di cafe. Jadi, Anda2 ini, para tuhan2, sebenarnya tidak mati..?” 

Cao Dai : “ Oh tidak anak muda, kami hanya pura2 mati. Kamuflase strategis.” 

Allah : “Aku memilih mati, biar tidak ada yang membelaku lagi, wong aku tidak butuh dibela koq. Tidak ada itu perang demi agama atau demi tuhan. Yang ada perang demi nafsu.” 

Bapa : “Ya manusia goblog, sekuat apa mereka itu mau melindungi tuhan, wong prestasi terbesarnya saja hanya menginjakkan kaki di satelit bumi yaitu bulan. Yang pake bom hydrogen pake reaksi fusi saja tidak mampu, apalagi senjatanya cuman clurit, parang , dan cangkul.”
Ahuramazda : “Ya, lebih baik manusia melupakan tuhan saja, kalau perlu ditaruh di undang2 dasar bahwa tuhan telah mati, wong dari dulu tidak ada bukti koq kalau tuhan itu membantu manusia, kalaupun kelihatannya membantu, itu lebih karena sugesti atau karena kebetulan saja dapat rejeki, trus dikaitkan begitu saja dengan tuhan. Jadi kupikir, lebih baik agama2 itu dibubarkan saja. Nah kamu sendiri mas wartawan, kamu percaya tuhan..?” 

Aku : “ Aku netral saja, kalau sedetik lagi ada bukti bahwa tuhan itu ada, aku akan percaya tuhan. Tapi bisa juga sebaliknya, jika sedetik lagi ada bukti bahwa tuhan tidak ada, aku akan tidak percaya adanya tuhan. Aku tidak mau gegabah percaya atau tidak percaya begitu saja. Yang pasti adalah aku tidak percaya tuhan2 macam kalian, karena kalaupun misalnya tuhan itu ada, aku yakin tuhan tidak seterbatas seperti kalian2 ini. Yang menurunkan kitab suci, yang menurunkan makhluk terbaik, yang terjebak dalam sui generis, yang tidak bisa ditempatkan dalam kompleksitas kosmos. Maaf jika menyinggung kalian, tapi kalian tidak pantas jadi tuhan.” 

Shang Ti : “Jadi kamu jelas bukan theis, tetapi bukan pula atheis, deis juga bukan. Pantheis bukan, panentheis bukan, fideis juga bukan. Pusing deh akika, mau loe apa dong...?” 

Khrisna : “ Aliran baru rupanya hahahhaha......, tapi tentang membubarkan agama2, jangan buru2 gitu dong. Loe2 pade musti tahu men, kalau 90% lebih manusia itu butuh simbol, butuh balasan, butuh sandaran vertikal. Nah, mayoritas manusia yang goblog ini, yang tidak bisa berpikir merdeka, yang perlu dogma dan aturan, yang tidak mau susah2 pusing berfilsafat, ini masih butuh sama yang namanya agama. Punya agama itu lebih baik sebagai penuntun mereka daripada tidak punya sama sekali. Tapi juga harus disadari, tidak percaya tuhan alias atheis itu tidak sepenuhnya juga lepas dari penyakit sejarah pengkultusan, gak nyembah tuhan tapi nyembah Mao, Lenin, Stalin, ato Hitler itu sama saja bahayanya. Kecenderungan berlebihan itu memang sifat manusia, sehingga manusia susah kadang membedakan antara kemanusiaan dan ketuhanan. Nah mas wartawan, anda sekarang sudah tahu bahwa kami tidak mati, anda mau apa...?” 

Aku : “Lho saya sekedar mau tabayun, apakah tuhan2 ini bener2 mati. Nah ternyata kalian ini pada belum mati, tapi manusia memang berusaha membunuh kalian, dan celakanya yang mau membunuh itu adalah pengikut2 kalian sendiri. Nietszche, Marx, dan sayap2 kiri Hegelian saja kalah sophisticated, karena mereka melawan agama hanya ketika agama itu korup dan represif, menjadi legitimator dalam pertarungan antar kelas. Sedangkan banyak umat2 beragama membunuh tuhan mereka di saat tiap hari mereka juga menyembah2 tuhan2 itu. Reduksi atas kemahaanmu adalah pembunuhan karakter terbesar sepanjang sejarah manusia.”

Bapa memegang gelas birnya, meneguknya berkali2. Sedangkan Allah tampakmurung dan berpikir keras. Khrisna yang dipojok manggut2 sambil sesekalmenyodok bola dengan sticknya. Shang Ti yang jadi lawan ngepool Khrisntampak sesekali melotot kalau nada bicaraku sudah mengganggunya.

Allah : “ Nah wartawan tolol, kami memang belum mati. Kami hanya pura2mati, biar manusia bisa mencerahkan diri tanpa kami. Kau jangan pula bilang bahwa keputusan kami salah, kami para tuhan2 sudah rapat mengenai hal itu, sudah kami pertimbangkan baik dan buruknya. Di saat science sudah cukup maju seperti saat ini, lonceng kematian untuk tuhan2 tradisional macam kami sudah berdentang, sebelum lonceng itu semakin keras mendayu, kami memutuskan untuk ‘mati’. Tuhan2 pagan sudah mati sejak dari beratus2 tahun lalu, sekarang giliran kami. Kami sadar sesadar-sadarnya, bahwa mayoritas manusia masih butuh sandaran vertikal, tetapi itu tugas manusia2 tercerahkan untuk terpanggil memberi rasionalitas dan moralitas murni makhluk tanpa stempel tuhan. Sekali lagi karena stempel tuhan adalah hal yang paling ambigu dan paling sering disalah gunakan.” 

Aku :” Jadi, aku harus menulis apa untuk artikelku ini, apakah aku harus jujur ataukah..” 

Waheguru : “ Demi kemaslahatan umat, saranku, ini hanya saran lho ya. Beritakan apa yang dibilang Allah tadi saja, biarlah kami mati di sini. Pers bebas menulis, sebagai bagian tak terpisahkan dari demokrasi, dan sebagai tanggung jawab dari kebebasan itu adalah kewajiban untuk menebarkan pencerahan2 intelektual, bukan sebagai agen propaganda kapitalis, fasis dan puritanis.”

Bapa tiba2 berjalan ke arahku, rupanya dia menawarkan bir ke aku. Gelas cukup panjang dengan sedikit busa di puncaknya disodorkan ke aku. 

Aku : “ Maaf, aku tidak minum bir Bapa. Pahit banget di lidahku, bukan karena dianggap haram atau apa lho ya. Ntar deh, kalau ada bir rasa duren aku coba minum. “ Bapa tersenyum kecut, kemudian dia tertawa, dielusnya kepalaku. 

Bapa : “ Dasar wong ndeso kowe...” 

Aku :” Sebentar tuhan2 sekalian, kembali ke masalah tadi, aku menghormati keputusan kalian, tapi kalian harus tahu, ketimpangan antar manusia ini sungguh besar. Di saat yang satu sudah bisa mengintip galaksi dan quasar, yang lain masih hidup pakai cawat dan hidup berburu. Di saat yang satu sudah bisa keliling dunia dalam hitungan jam, yang satu kakinya bengkak kebanyakan jalan. Yang satu hidup mewah di istana2, yang satu di kolong2 jembatan. Jadi matinya kalian mungkin malah mempunyai akibat buruk bagi sebagian manusia, karena mereka bisa menjadi layangan yang tiba2 putus, ini mungkin lepas dari pengamatan kalian.”

Khrisna : “ Akselerasi, akumulasi, distribusi pengetahuan dan kesejahteraan itu tugas manusia, bukan tugas tuhan. “
Ahuramazda : “ Tepat Bung Khrisna, masak kita2 ini harus melakukan penelitian, bikin LSM, propaganda tausiyah, ekstensifikasi tarbiyah, bikin website, nulis artikel, bikin koperasi, ya lucu aja gitu lho. Itu tugas manusia, tapi bukan sebagai kewajiban, tetapi datang sebagai rasa cinta kasih ikhlas seikhlas2nya terhadap sesama manusia, syukur2 kalau sudah menembus kecintaan terhadap semua makhluk, termasuk setan dan iblis hahahha......”

Iblis : “ Bung Ahuramazda, jangan rasis gitu dong, please deh. Begini2 aku sekarang sudah sadar, merasa kalah sama manusia. Mereka bisa lebih bejat dan psikopat daripada aku, jadi daripada aku kalah pamor, aku juga memutuskan untuk menjadi baik.” 

Baha’i : “ Sudah2, begini saja Mas wartawan, malam ini nginep saja di kuburan kami, ada satu tempat khusus buat tamu, jadi besok pagi kita bisa diskusi lagi. Sekarang mari kita makan2 dulu, saya yang traktir deh. Plat du jour nya kali ini gudeg jogja, disertai teh anget tanpa gula. Mari2 makan….” 

Aku yang memang lapar segera menghampiri kuali besar isi gudeg itu, diikuti oleh tuhan2. Malam itu kami makan bersama sambil bercanda tak tentu arah, tentunya ditemani oleh senyum genit mbak pelayan bar yang juga pake rok mini.




Kartini, Pelacur Kelas Teri


Jarum jam menunjuk angka 2, dingin sudah mulai membelai kulit dan meminta perhatian agar aku segera tidur. Aku sudah memuaskan birahi Pak Reno, lelaki gendut kepala RT-ku. Dia berjalan terhuyung2 pulang ke rumahnya. Badannya bau sekali, mungkin dia hanya mandi pada bulan Suro saja, nafasnya ngos2an seperti dikejar maling, dan rambutnya yang mulai memutih itu, sering rontok kalau terkena tarikan, walaupun sedikit saja. kalau saja dia tidak membayar selembar ratusan ribu untuk "short attack", aku tidak akan sudi melayaninya.

Oh ya..perkenalkan namaku kartini, aku memakai k (kecil) untuk namaku karena aku tidak mau menodai nama Ibu bangsa Indonesia Raden Ajeng Kartini. Dia adalah idolaku sejak kecil, memang dia hanyalah seorang anak selir dari asisten Wedana*, tapi cita2nya untuk membangun bangsaku sangat aku kagumi. Aku tak perduli walaupun dia akhirnya menyerah kepada nasib dengan menikahi seorang bupati, bupati lagi bupati lagi.....aku jadi muak mendengar nama itu..seperti tidak ada nama lain saja di dunia ini. Bupati yang berkuasa di wilayah yang cukup luas, disembah di sana sini, orang menyungkur kalau bupati lewat, bisa menikahi perempuan lebih dari satu, bahkan mungkin sepuluh. Tetapi kebangsatan priyayi Jawa yang bertitel bupati ini juga tak kalah memuakkan, dia akan menyungkur terhadap penggede2 kumpeni, bangsaku menyebut demikian. Hasil bargaining dari Verenigde Oost-Indische Compagnie, bangsaku susah melafalkannya sehingga menyebut kumpeni dengan gampangnya. 
 
Ibu Kartini memang menyerah terhadap tekanan terhadapnya, tapi aku toh menyerah juga pada tekanan yang menghimpitku. Jadi sekali lagi aku tidak perduli, bagiku Kartini adalah pahlawanku. Tapi begitulah, namaku juga kartini, tentu saja tanpa Raden Ajeng atau Raden Ayu di depannya, dulu waktu aku masih sekolah SD, aku dengan bangga menggunakan K besar di ujung namaku, aku ingin menjadi seperti dia, menentang kelaliman laki2, berteriak melawan kemunafikan para priyayi2, berharap menghancurkan budaya malu2 dan unggah-ungguh, mencoba mendidik wanita negeri untuk mampu mendongakkan wajah menghadap cerahnya kehidupan. Tapi cita2 menjadi hanya sekedar cita2, seperti uap air yang akan segera menghilang membubung ke angkasa, berarak ke sana kemari menawarkan diri. Aku tidak bisa lagi melanjutkan ke SMP, walapun rentetan nilaiku cukup menjanjikan. Aku termasuk orang yang cukup cerdas, setidaknya itulah yang dibilang guru2 SD ku. Tapi beberapa lembar puluhan ribu tak ada pada diriku, sehingga dengan sangat terpaksa aku mendekam di rumah, menyaksikan teman2 sebayaku memakai sepatu baru, celana baru, tas baru, dan semua yang serba baru, cerah menjemput harapan. Kadang aku harus menangis, mengapa dunia ini terlalu jahat kepadaku, seorang gadis kecil yang harus menabrak kenyataan pahit. 
 
Setiap pagi aku harus bangun, membantu ibu memasak, dan kemudian ikut ke sawah membantu apa saja yang bisa kulakukan. Sepetak tanah hasil warisan dari kakek itulah satu2nya harapan hidup kami. Itupun sering harus dibiarkan bero**karena pengairan irigasi belum sampai menyentuh sawah kami. Aku cukup cantik, tubuhku putih bersih, rambutku panjang berombak, mataku bulat disertai bola mata yang tajam, seperti putri Bali kata ibuku. Dua tahun setelah aku lulus SD, datang seorang tetangga kami, Pak Dasad namanya, seorang tuan tanah. Dia bilang terus terang pada orang tuaku agar diijinkan mengawiniku, sebagai gantinya sawah sebahu*** akan diberikan kepada mereka. Ibuku dengan tegas menolak permintaan itu, bahkan dia menangis sesenggukan. Tapi bapak punya pendapat lain, dia setuju dan bahkan meminta persyaratan tambahan dari Pak Dasad, tegalan yang di pinggir kali punya Pak Dasad pun dimintanya juga. Malamnya terjadi perang besar antara bapak dan ibu, pertama kali dalam hidupku kulihat mereka begitu saling benci, saling caci, sumpah serapah keluar semua. Aku hanya diam saja. Hatiku menangis, tapi aku tidak bisa berbuat apa2. Aku ingin lari tetapi lari kemana. Aku hanya sesenggukan sendiri di kamar. Besoknya aku sudah dipingit, tidak boleh keluar sama sekali. Rupanya bapak lebih superior daripada ibu, dan aku yang harus menjalani derita dari zaman ke zaman ini. Beberapa hari setelahnya pun aku menikah, sederhana dan kecil2 an, karena aku memang istri ke sekian dari Pak Dasad. Dan malam petaka itupun datang, dengan nafsu Rahwana-nya Pak Dasad memperkosaku, ya dia memperkosaku. Sama sekali tidak ada foreplay, sama sekali tidak ada kata2 sayang yang seharusnya sangat diharapkan oleh seorang perempuan. Alih2 tahu tentang G-spot, bahkan setelah nafsu birahinya terpuaskan, diapun tidur terlelap dan mendengkur di sampingku. Pernikahan kami tidak berlangsung lama, Pak Dasad adalah tipe yang ringan tangan. Pukulan sering mendarat di sekujur tubuhku bila ada sesuatu yang menurut dia salah. Lama kelamaan aku tidak tahan lagi, akupun minta cerai. Permintaanku dikabulkannya, tetapi masalah tidak berhenti di situ, aku hamil anaknya. Untuk menghindari malu, aku langsung mengungsi ke daerah perkotaan. Dimana berlaku filosofi hidupmu adalah hidupmu dan hidupku adalah hidupku.

Dan lahirlah Dara, mungil dan cantik, waktu lahir beratnya hanya 2,7 kg. Aku memberi nama demikian, karena aku ingin dia bisa terbang bebas seperti burung dara(merpati=red), menemukan soul mate-nya dan hidup bahagia selama2nya. Untuk menghidupi Dara, aku bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Siang hari aku bekerja, dan malam hari aku merawat Dara. Untung siang hari ada seorang nenek sebelah kos2anku yang rela menunggui Dara tanpa bayaran sepeserpun. Suatu saat aku ketiduran saat memasak, lelah sekali karena Dara rewel terus semalaman, dan panci tempat aku masak itupun hangus dan terbakar. Aku mendapat marah besar dan seketika itu pula dipecat dari jabatan pembantu rumah tangga. Mencari pekerjaan susah sekali, jangankan untuk aku yang hanya lulusan SD, para sarjana2 yang telah bertitel berjejer, dan yang menghabiskan puluhan juta untuk studinya saja harus berlari pontang-panting ke sana kemari mencari sesuap nasi. 
 
Dara kena demam, aku tidak ada uang sama sekali, aku pinjam kesana kemari tidak ada yang mau meminjami, Dara menangis saja tanpa henti, aku sampai pusing mendengarnya. Tiba2 pintu kosku dibuka, aku kaget, Pak Budi, tetanggaku yang ganteng itu masuk tanpa permisi. DIa menawarkan untuk membawa Dara ke dokter terdekat, tetapi meminta imbalan tubuhku. Aku bimbang memilih antara nilai harga diri dan kecintaan kepada anak. Akhirnya aku memilih yang kedua. Itulah pertama kali aku menjual tubuhku untuk beberapa lembar puluhan ribu. Pekerjaan ringan sebenarnya, walau hati ini pedih. Tetapi aku tidak punya pilihan lain.

Dan menjadi perempuan penjual cinta pun menjadi pekerjaanku sejak itu. Aku tidak tahu kenapa, namaku cepat sekali menyebar di kalangan underground pria hidung belang. Kebanyakan memang pria baik2 yang menjadi langgananku, tetapi juga tak jarang pula para bangkotan tengik itu yang menikmati tubuhku. 
 
Dara sudah umur 3 tahun sekarang, sudah mulai ceriwis, rasa ingin tahunya semakin besar, dan sudah mulai kelihatan tanda2 kecantikan yang ia warisi dariku. 
 
"Mama, kenapa setiap hari selalu ada orang kesini..?, apakah mereka menyakiti mama..?" 
 
"Dara sayang, mereka tidak menyakiti mama, mereka justru membantu mama, untuk membeli makanan dan menyekolahkan Dara tahun depan" 
 
"Mama, jadi apakah aku nanti..?" 
 
Aku kaget, dan airmataku meleleh. 
 
"Dara akan jadi kartini yang tak akan menyerah" 


 
* wedana : pemimpin dari kumpulan beberapa kecamatan,
setingkat di bawah bupati 
 
**bero : tanah puso/tidak digarap 
 
*** sebahu : seperempat hektar






SUMBER : @ZIARAH KE MAKAM TUHAN BY M. AMIN

Keyword :

Perempuan-Perempuan Yang Ingin Diperkosa


Haha.........., rasanya segar sekali, baru saja aku telah menggagahi seorang gadis cantik bernama Indonesia, cantik tapi bodoh, dengan gincu tebal mengundang birahi. Sebelum dia kugilirkan kepada pelanggan2 lainnya, dia harus kucicipi dulu. Oh ya perkenalkan, namaku Badu. Pekerjaanku Mucikari, menjuali perempuan2 yang kutemui dijalan, tentu saja yang cantik2 tapi tidak punya otak, atau lebih tepatnya punya otak tapi tidak digunakan. Setiap hari aku berjalan2 dari ujung ke ujung, untuk sekedar melihat2 siapa tahu ada gadis baru yang memenuhi syarat. Aku sudah melakukan pekerjaan ini bertahun2, tahun ini, tahun 2005, sudah genap 61 tahun sudah aku menjalankan profesi ini. Pekerjaan yang menyenangkan, aku tak perlu memeras keringat, tapi aku bisa hidup mewah dan terhormat.


Kukenal dia beberapa minggu yang lalu waktu aku lagi jalan2 di mall, kulihat ada seorang gadis tomboy berambut pendek tapi wajahnya cantik dan berhidung mancung. Sedang jalan2 melintasi etalage toko2 bermerk. Langsung saja naluriku berjalan, kudekati dia pura2 menanyakan dimana Starbucks Cafe terdekat dari situ. Aku pura2 tidak tahu daerah itu, dia pun menunjukkan arah. Tetapi aku bilang bahwa aku tidak tahu daerah situ, aku memintanya untuk mengantarkanku ke cafe itu dengan imbalan CD musik yang dijual di Starbucks. Dia mau saja, dan setelah sampai di cafe kutawari saja sekalian untuk minum kopi bersamaku. Kami mulai ngobrol ngalor ngidul tak tentu arah. Dari percakapan itu aku tahu bahwa dia sebenarnya adalah anak seorang tuan tanah, tanahnya luas dari Sabang Sampai Merauke, tetapi karena keengganannya menggarap tanah itu ditambah ketidaktahuannya akan ilmu bercocok tanam dan manajemen, dia biarkan orang lain yang mengolah tanah itu. Dia hanya menarik sedikit biaya dari orang yang menggarapnya. Dia pun lebih suka hijrah ke kota besar yang hingar bingar, karena dengan begitu dia bisa berdandan modis, mempunyai peralatan2 mutakhir, dan ber-urbanlifestyle-ria. 
 
Biasanya, setelah kugagahi, yang tiba selanjutnya untuk mencicipi adalah Imof. Jika kesempatan memungkinkan, menage a trois pun tidak apa2, kami garap bersama2 gadis baru itu. Bersama Imof, yang adalah saudara kembarku, kami adalah entitas mucikari terbesar dan terhebat yang mungkin pernah ada di muka bumi ini. Kami sama2 dilahirkan di Bretton Woods, sebuah desa kecil nan indah di bumi utara sana. Sebagai mucikari, aku sudah makan asam garam kehidupan. Merayu mereka yang kutemui dengan iming2 kekayaan, kemewahan, dan tentu saja kemajuan lahir dan batin. Tidak semua berhasil aku tipu memang, tapi sebagian besar berhasil. Gadis2 cantik yang hanya mau bermewah2 tapi tidak mau bekerja keras dan berpikir, ah tentu saja adalah makanan empukku. Wajah cantik, pantat bahenol, pinggang mirip gitar Spanyol, tentu saja akan sangat mendatangkan keuntungan yang tidak kecil untukku. 
 
Untuk meningkatkan ketergantungan mereka, mereka akan kumanja2 dulu dengan apapun yang mereka inginkan, jika sudah ketagihan maka mereka kuhutangi dulu dengan jumlah yang tidak sedikit. Kuberi mereka barang yang indah2, mobil mengkilap, janji2 manis, dan hampir apapun yang menjadi tanda kemajuan dan modern lifestyle. Baru setelah itu, perlahan namun pasti, kudikte apa yang harus mereka lakukan, dengan tujuan akhir menjadi pelacuprofesional untuk imperium bisnisku. Kadang2, aku sengaja menyewa agenkhusus untuk memperluas imperium bisnis mesumku, para lover boy adalanegosiator ulung dalam merayu dan tentu saja memasukkan mangsa2 itu kdalam lingkaran setan yang telah disiapkan. Setelah masuk dalam inner circlemereka akan dengan sendirinya belajar bagaimana melempar senyuman nakamenggoda untuk segera diajak asyik mahsyuk di atas ranjang. Tetapi sungguhbanyak dari mereka justru belajar sendiri seperti itu. Menjilat dengan katamanis dan pelayanan yang memuaskan. Bahkan kalau aku kadang menjengumereka, sengaja disiapkan penyambutan yang luar biasa, agar tentu saja akberbaik hati untuk menghutangi mereka lebih banyak dan lebih banyak lagi.

Sebenarnya aku kadang2 kasihan melihat perempuan2 itu, selalu saja sebenarnya ada kesempatan untuk melepaskan diri dari cengkeraman imperiumku, tapi mereka sepertinya enggan dan malas. Dengan pekerjaan yang cuma mengangkang dan bermake up ria itu, rupanya semakin lama justru semakin menumpulkan otak mereka. Mereka sudah bisa seharusnya untuk berdikari, mungkin dengan uang yang mereka punya dan tenaga yang tersisa, membuat usaha sendiri agar martabat mereka lebih terangkat. Tapi sekali lagi, mereka rupanya malas dan tak berpendirian teguh. Sekali waktu mereka mungkin mencoba memikirkannya, dan bilang kepadaku untuk mengangsur utang mereka, dan tak mau berhutang lagi. Tapi berulang kali pula mereka berubah pikiran, berhutang dan berhutang lagi untuk membiayai gaya hidup mereka yang sudah terlanjur hedonis. Terakhir2 ini bahkan ada di antara mereka yang meminta penghapusan utang, yang pada awalnya tentu saja kutertawakan, lelucon macam apa pula ini. Utang koq begitu saja minta dihapuskan, dimoratoriumkan. Tetapi karena desakan dari pemegang saham di imperium mesumku yang sudah mulai resah oleh tekanan dari kanan kiri, akhirnya untuk mereka yang utangnya sudah mencekik leher, apalagi yang bunganya saja sudah melebihi pokoknya, terpaksa aku harus hapuskan utangnya, tentu saja tidak semua. Melacur seumur hiduppun, utang itu tak akan pernah lunas. Nah beberapa yang penakut dan penurut, yang walaupun sudah kembang kempis tertimbun utang, dengan gengsinya tak mau meminta penghapusan utang. Yah, aku sih senang2 saja. Justru kepada mereka akan kugelontorkan utang2 baru yang bukan hanya mencekik mereka, tetapi juga anak cucu mereka. Sehingga lengkap pulalah silsilah keluarga itu, keluarga pelacur. Pelacur hati nurani, pelacur yang masih sering ngomong masalah moral, pelacur yang ambigu, karena kadang kau lihat mereka sebagai pelacur tapi kadang pula kau lihat mereka berbicara sungguh2 tentang kehidupan asketik, tentang surga dan neraka, bahkan tentang Tuhan.

Apabila mereka sudah masuk perangkapku, akan kuselenggarakan training khusus bagaimana memuaskan pelanggan. Tentu saja tidak semua harus mereka tahu, yang paling penting adalah pengetahuan dasarnya saja. Aku akui, aku cukup pelit berbagi ilmu dengan mereka, aku ajari mereka bagian2 tertentu dari Kama Sutra, tentunya yang hanya berkaitan2 dengan posisi2 yang berjumlah 64 itu. Selebihnya yang justru lebih penting, bagaimana mencari kebahagiaan dengan jalan menjalin hubungan yang baik antara pria dan wanita sengaja aku sembunyikan. Apalagi tentang Kama Sashtra*, aku sembunyikan sama sekali. Biarlah bagi mereka seks hanyalah sebatas seks, menjadi tujuan bukan dijadikan alat. 
 
Tentu bisnis begini banyak maju mundurnya, tapi aku pantang menyerah, perangkat2 hukum pun sudah aku jarah demi mengamankan posisi kami. Dan tentu kupoles dengan aksi2 sosial yang lebih bertujuan untuk menimbulkan imago bersih. Aku dan Imof telah mempunyai tugas masing2, tapi kami saling memperkuat. 
 
Tapi Imof akhir2 ini tampak uring2an, aku dengar banyak kritik tajam mengalir ke meja kerjanya berkaitan dengan saran2nya akhir2 ini yang ketahuan justru membuat pelacur2 itu semakin tergantung padanya. Membuat mereka semakin malas, membuat mereka semakin dalam terjerat dalam dunia hitam. Kutelepon dia malam kemarin, sekedar menanyakan kabarnya. Aku bilang tidak usah terlalu dipikirkan apa yang dibilang oleh para aktivis2 LSM itu, mereka memang sudah pekerjaannya berkoar2 semacam itu. Mau itu namanya Chomsky, Geldof, Bono, Hysham, Prahalad, atau tai kucing, tidak usah terlalu dimasukkan hati. 
 
Tak terasa, sudah larut malam. Mengurusi tetek bengek perusahaan ini sungguh kadang2 melelahkan. Bukan saja harus bersaing dengan perusahaan yang terjun di bisnis permesuman ini, tetapi juga harus pasang mata dan telinga akan teriakan2 dari masyarakat yang dikompori oleh para aktivis LSM. Semakin hari, semakin macam2 saja tuntutan para cecunguk LSM itu. Belum lama mereka berkoar2 tentang corporate responsibility, sekarang sudah lebih berani lagi menuntut corporate accountability. Bagaimana perusahaanku akan menguntungkan jika harus juga accountable atas kerusakan2 dan kerugian yang disebabkan oleh pihak ketiga yang menjalin bisnis dengan perusahaanku. 
 
Sudah waktunya untuk tidur, besok pagi akan kucari lagi gadis2 seperti itu lagi. Dan juga akan kukunjungi pelacur2 yang sudah setia menjadi anak buahku, besok ada dua yang akan kukunjungi, gadis hitam manis bernama Nigeria, dan juga seorang gadis yang melacur hanya sebagai hobby, Saudi Arabia namanya. Aku akan melanglang dari benua ke benua, dari Asia sampai Afrika, dari Amerika Selatan sampai Eropa Timur. Menipu dunia dengan uang dan retorika, menyebarkan demokrasi dengan anarki, memesumi moral dan etika. Oh..betapa gampangnya dunia kukuasai. 
 
* Kama Sashtra = secara harfiah berarti Pengetahuan ttg Kebahagiaan, adalah kitab klasik dimana Kama Sutra hanyalah salah satu bagian kecilnya.



SUMBER : @ZIARAH KE MAKAM TUHAN BY M. AMIN

Ketika Hawa Tidak Mencintai Adam

Kutinggalkan Indonesia, negeri indah penuh bajingan itu. Bajingan yang bisa berkamuflase, dalam segala bentuk dan suasana. Terbang menuju negeri baru yang mungkin akan memberikan nasib lebih baik bagiku. Posisiku sudah cukup lumayan di rumah sakit tempat aku bekerja, cukup kalau hanya sekedar menghidupi diriku sendiri, tapi untuk menghidupi keluarga, apalagi untuk menghidupi anak2ku nanti, aku tidak tahu. Setelah kupikir lama dan atas persetujuan keluarga, akhirnya aku berangkat juga. Hanya saja ada torehan luka yang tersayat menjelang saat2 keberangkatanku, tunanganku memutuskan untuk tidak memberikan lagi curahan cintanya kepadaku, jarak yang terlalu jauh katanya, alasan klise yang membuat hatiku hancur, perjuanganku selama ini ternyata sia2, pengorbananku terhadapnya terlempar begitu saja. Tapi aku hanya bisa menangis, sampai kacamataku harus rela basah oleh deritaku. Memalukan mungkin, bagaimana mungkin aku menangis di saat usiaku yang sudah menjelang kepala tiga.

Tertatih2 di negeri baru, aku tidak perduli, hidup kuanggap sebagai permainan judi, kalah dan menang adalah keniscayaan. Kehidupan baruku terisi dengan kerja dan kerja, profesi perawat di sini ternyata tidak semudah di Indonesia, aku harus mengurus orang2 tua yang praktis sudah tidak bisa apa-apa, orang2 tua yang sudah tidak diurus oleh anak2nya, yang hanya didatangi jika mereka sudah mati, hanya demi mendapatkan beberapa dari peninggalannya yang masih berarti.

Aku pun bisa menabung, penghasilan yang kudapatkan jelas jauh lebih besar daripada yang kudapatkan di Indonesia, tak lupa setiap bulan aku akan mengirim sebagian ke keluargaku dan sebagian lagi aku sumbangkan untuk pembangunan masjid di RW-ku yang setahuku sejak aku masih SMP sudah mulai dilakukan pembangunan dan sampai sekarang belum selesai. Keluargaku begitu bahagia, itu terlihat dari surat2 yang mereka kirimkan, tak lupa juga ada salam dari ketua RW segala, yang sangat berterima kasih telah menyelamatkannya dari coreng moreng cemooh atas tertunda2nya pembangunan masjid itu.

1 tahun berlalu..........................

Queen's Day, Koningin Dag, orang sini bilang. Semua orang keluar dari rumah, merayakan hari kelahiran ratu. Dan hari ini telah tertradisikan menjadi sebuah pasar terbuka di seluruh pelosok negeri, semua barang2 rumah yang sudah jarang dipakai ataupun sudah tidak dipakai akan dipajang di depan rumah atau di pusat2 kota untuk dijual murah, mungkin bisa dibilang hampir gratis. Rumah jompo tempat aku bekerja berinisiatif untuk menghibur para bewoners* dengan apa yang kami bisa. Aku dan para teman2 sekerja pun mulai berunding, ada yang menginginkan pemutaran film, ada yang drama, ada yang ballet, ada yang ingin diadakan sekedar pesta kecil2an, ada pula yang tidak mau mengadakan acara mengingat kami kekurangan orang.

Tapi akhirnya diputuskan untuk membuat dua acara, ballet dan drama. Hampir semua dari kami diharuskan bermain, bahkan Eric satu2nya laki2 di antara kami pun diwajibkan ikut. Untuk ballet dipilih bagian terakhir dari cerita "Romeo and Juliet" yang mengharukan itu, setelah berdebat seru karena sebagian yang lain ingin "Don Quixote", karena kisahnya lebih heroik. Untuk drama kami memutuskan untuk memainkan "The Inspector-General" sebuah drama komedi ala Rusia. Aneh2 saja memang, ternyata Rusia mempunyai permasalahan yang hampir sama dengan bangsaku Indonesia, penuh dengan pejabat yang korup dan sewenang2, berteriak2 seakan komunis**tetapi berjiwa oligark***. Eric membisiku begitu, setelah melihat aku hanya melongo saja, karena aku tidak tahu apa isi drama Rusia itu.

Aku kebagian peran menjadi Juliet, dan setelah beberapa lama berdebat, Janice kebagian peran Romeonya. Sebenarnya peran itu ditugaskan ke Eric, tapi Eric dengan mentah2 menolaknya, selidik punya selidik, ternyata dia seorang gay, yang mungkin jijik jika berciuman dengan lawan jenisnya seperti aku ini. Rumor itu ternyata benar, Eric yang akrab sekali dengan dunia malam itu, sepertinya sudah bosan dengan perempuan dengan segala tetek bengeknya.

Siang itu pertunjukan begitu meriah, kulihat lagi senyum2 bahagia di antara orang2 tua itu, yang biasanya sehari2 cuma bisa memerintah dan teriak2 minta tolong. Dan pertunjukan balletku sebagai Juliet adalah pertunjukan pamungkas, dengan adegan ciuman Romeo kepada Juliet, Janice menciumku dengan lembut, lembut sekali, getaran yang bertransformasi menjadi sensasi indah. Aku kaget campur bingung, ciuman itu terasa sangat lain. Geletarnya merambat ke seluruh tubuh...., aku sampai meneteskan air mata.

Setelah acara selesai, Janice menghampiriku, menanyakan apakah aku baik2 saja, karena melihat aku menangis tadi. Aku bilang baik2 saja, karena aku menangis bukan karena sedih, tapi karena ada sesuatu yang tak terkatakan dalam ciuman tadi. Janice mengundangku datang ke rumahnya malamnya, sekedar untuk masak bersama dan keluar ke pusat kota untuk sekedar cuci mata.

Sudah agak larut ketika kami pulang dari tempat kerja kami, aku dan Janice yang kebetulan tinggal tidak terlalu jauh pulang bersama2. Dingin musim semi masih semilir menebarkan nuansanya, masih membuat bunga2 sedikit malu untuk menawarkan indahnya. Kami berjalan agak bergegas, diantara gedung2 kuno dan museum yang memang menjadi ciri khas kota yang aku tinggali. Janice berjalan sambil menggenggam tanganku, dingin yang tadi aku rasakan, berubah menjadi hambar atau mungkin netral, aku tidak tahu. Yang pasti aku seperti cawan anggur yang telah kehilangan isinya, berisi partikel2 udara dan siap dimasuki oleh tuangan selanjutnya.

Sekitar jam 7 malam, aku ke dapur untuk memasak. Tak lama kemudian Janice pun datang, dia sudah berpakaian rapi, agak lain dari biasanya. Kami pun masak Tagliatelle*********, salah satu makanan favorit yang hampir disukai semua orang di tempat kerja kami.
Diam2 Janice merangkulku dari belakang dan membisikkan..
"I love you..."
aku segera menyibakkan tangannya, dan berbalik arah.
"Kamu gila ya......" dengan nada ketus aku mengucapkannya, tak tahu apa ada kata lain yang lebih bagus.
"Kebahagiaan orang yang dicintai adalah kebahagiaan orang yang mencintai" dengan tatapan matanya yang nanar ke arahku, Janice dengan geragapan mengucapkan kalimat itu.
Aku terdiam................................................

Kami tinggal serumah sekarang, sedari awal aku sudah berusaha menyembunyikan berita ini. Tapi gosip dengan santernya beredar, apalagi di kalangan kelompok pengajian PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang sering aku ikuti. Aku menjadi terasing di forum yang biasanya syarat pesan2 moral itu. Anggapan bahwa aku seorang lesbi membuat mereka berhati2 terhadapku, dan dari pandangan mata mereka tampak sekali bahwa mereka seakan jijik melihatku. Itupun ditambah dengan sindiran2 halus nan menyakitkan ketika ada ceramah, tentang berbahayanya homoseksual (menyukai sesama jenis kelamin) baik itu gay ataupun lesbi. Bahkan Hasan, yang selama ini sangat dekat denganku, dan aku tahu dia memang menyukaiku, berubah 180% menjadi memusuhiku.

Hatiku hancur, arus yang biasanya ramah kepadaku, kini semakin deras menyeretku dan merobek2 pertahananku dengan pusaran2nya yang dahsyat dan mematikan. Tapi aku berusaha menguasai diriku, apapun yang terjadi, akal harus selalu berada di atas perasaanku. Kala sendiri di rumah dan Janice sedang kerja, aku sering menangis, mengapa Tuhan membalas ketaatanku selama ini dengan perasaan seperti ini. Tapi sekali lagi aku tidak perduli, apakah Tuhan yang katanya penuh cinta itu akan melarang makhluknya untuk mencintai makhluk lainnya walaupun itu sesama jenis. Dan aku tahu bahwa aku tidak sendiri, Janice yang berasal dari keluarga Katolik Ortodoks itupun menghadapi permasalahan yang sama. Keluarganya sangat marah begitu mendengar bahwa kami samen leven, menginjak2 ajaran Bible katanya. Sodom dan Gomora sudah diratakan dengan tanah, karena Tuhan geram atas tindakan penghuninya, dan sekarang anaknya yang melakukan hal yang sama. Tak jauh beda denganku yang dituduh makar terhadap ajaran Al-Quran, melakukan liwath**** dengan terang2an.

Janice sudah mengatakan tentang hubungan kami kepada orangtuanya, dan
dia sekarang menuntutku untuk melakukan hal yang sama, liburan summer ini
dia ingin aku memperkenalkan dia ke keluargaku. Aku shock berat, tak tahu
harus berbuat apa, berpikirpun aku tak berani, aku yang sudah sedemikian
terisolir di kalangan sahabat2ku itu, tak mau membayangkan jika juga harus
terdepak dari keluargaku yang sangat aku cintai. Sedemikian pedih
penderitaanku, dan tidak ada yang bisa aku ajak membagi cerita, apalagi membagi duka. Kalutku semakin memuncak, sampai aku sakit, beberapa hari ini aku tidak masuk kerja. Kadang ada pikiran untuk mengakhiri saja hidup ini, tapi ketika kupikir lagi, bukannya menyelesaikan masalah, malah akan tambah memperparah. Tiba2 ada keinginan untuk memainkan hp-ku, dan mataku terantuk pada sebuah nama, Ahmad, dia yang selalu diam ketika ceramah itu dan seketika berubah menjadi play maker dengan canda dan kata2nya sehabis ceramah. Aku meneleponnya...
"Met Ahmad *****......." terdengar suara merdunya di ujung sana.
"Assalamu alaykum, Ahmad kamu bisa datang ke rumahku sore ini"
"Hhmmm, aku kerja sampai jam 5 sore, gimana klo agak malam, jam 7an gitu, tidak apa2 kan..?"
"Oke deh, klo kamu capek ya jangan, tapi klo tidak terima kasih sekali. Tot vanavond..******"

Ahmad datang tepat waktu, sudah menjadi kebiasaannya, justru karena dia tidak pernah memakai arloji. Gatal katanya kalau pakai arloji, dasar orang kampung hehehe..., tapi konon Ahmad ini pinter, dan religius juga, puasa senin kamisnya gak pernah ketinggalan walau udah lama di negeri orang. Tapi persetan dengan itu semua, mau dia puasa, mau dia sholat, mau dia bajingan, aku tidak perduli, aku hanya ingin curhat. Meminta sekedar pendapat tentang masalahku.

"Tuhan menghukum kaum Luth di Sodom dan Gomora, karena mereka mau melakukan homoseksual itu dengan paksa, dan waktu itu akan dilakukan kepada tamu nabi Luth, sebenarnya jika dengan baik2 dan tidak memaksa, mungkin kejadiannya akan berakhir lebih bagus" aku kaget bukan alang kepalang, kata2 menyejukkan pertama kali yang kudengar dari orang yang kubayangkan beragama. Setelah aku cerita panjang lebar tentang diriku, aku hanya bisa berharap bahwa Ahmad menasihatiku baik2 bahwa perbuatanku salah dan sebagainya, atau menjelaskan bahwa perbuatanku adalah salah satu mental disorder ( kelainan jiwa).

"APA (American Psychiatric Association) sudah menerangkan bahwa homoseksual bukan kelainan, begitupun WHO. Kita menjadi gay, lesbi, biseks ataupun hetero bisa jadi karena memang dari sananya sudah begitu, naturenya kita sudah diciptakan begitu. Aku sebagai seorang hetero tidak berhak menyalahkanmu atas pilihanmu, karena cinta adalah ungkapan tulus seorang anak manusia, siapapun itu bahkan Tuhan sekalipun tidak berhak melarangmu"
pernyataan keduanya lebih membuat aku kaget lagi, seorang Ahmad yang selama ini diam ternyata menyimpan pernyataan2 toleran dan egaliter semacam itu.
"Tapi aku pernah juga mencintai seorang laki2 Ahmad, aku takut kalau aku mengingkari kodratku" aku masih kurang percaya apa yang dikatakan Ahmad, aku hanya ragu mungkin saja dia hanya ingin mengurangi deritaku dengan ucapan2nya.

"Memang, karena memang homoseksualitas tidak hanya dari nature saja, tapi juga dari nurture, lingkungan yang membentuk kita. Setiap orang bisa berbeda dalam tahap identifikasinya, teman sekolahku, seorang cowok yang sejak kecil tinggal bersama neneknya dan dikasih main boneka2 an akhirnya dia mempunyai sifat gay juga"
Krinnggg....Kringgg...Kringg...........
suara bel dipencet, rupanya Janice sudah selesai kerja. Aku segera bangkit meninggalkan Ahmad dan membuka pintu untuk Janice.
"Goede avond schatje..*******" suara serak Janice langsung keluar begitu pintu terbuka.
"Kom binnen mijn lieveling..********"
Janice langsung mencium aku di bibir. Setelah bibirnya lepas, aku segera ingin memperkenalkan Janice pada Ahmad, Ahmad rupanya agak melengos, mungkin baru pertama kali bagi dia menonton adegan ciuman dua cewek secara langsung di depan matanya, sehingga sifatnya yang malu2 menuntunnya untuk lebih baik tidak melihat.

Setelah perkenalan basa basi, Janice langsung pergi ke kamar mandi, dan aku melanjutkan percakapanku dengan Ahmad di kamar. Aku lebih suka di kamar karena pembicaraan kami memang rahasia, dan Janice tahu itu. Dia tidak cemburu kalau aku memasukkan cowok ke kamarku, tapi kalau cewek, dia pasti akan marah habis2an.
Rupanya dibalik diamnya, Ahmad adalah sahabat yang sangat hangat dan charming, pendengar yang baik dan pengertian. Sehingga dengan itu, aku mendapatkan perasaan untuk bebas mengungkapkan segala keluh kesahku. Akupun cerita panjang lebar tentang masa laluku di pesantren, dimana aku merasa bahwa kehidupanku sangat dikekang. Apalagi kalau masalah cinta2an, menerima surat saja disensor habis2an. Jika tidak dari keluarga, kemungkinannya kecil sekali untuk sampai ke tangan yang dituju. Mungkin aku menikmati hubungan sesama jenis sejak aku di pesantren, karena nafsu yang menggebu dan tanpa ada penyaluran sama sekali walaupun lewat surat, banyak di antara kami yang bercinta di antara kami sendiri. Aku tidak tahu angka pasti berapa yang melakukannya, tapi yang pasti cukup banyak di antara sekitar 3.000 an santriwati yang belajar di pesantren itu. Ahmad masih mendengarkan dengan setia, sambil kadang mengangguk, atau menerawang tak tahu ke mana.

"Struktur dan paham institusi religi memang perlu saatnya banyak dirombak, kejadian yang kamu alami tidak hanya terjadi di pesantren wanita, di pesantren laki2 pun seperti itu, bahkan bukan rahasia lagi banyak pula terjadi di kepastoran atau di paroki, di wihara dan sebagainya, dimana pengekangan seks telah melampaui batas normal."
Lagi2 Ahmad membuatku tersentak, darimana dia tahu kalau kasus homoseksual itu terjadi di banyak lembaga2 suci itu. Jangan2 dia ngarang cerita saja, tapi aku tidak berani bertanya. Sepertinya dia bersungguh2 dengan ucapannya, dan aku tahu dia orang yang tidak suka berbohong.
"Ahmad, Janice meminta aku untuk memperkenalkannya pada keluargaku summer ini, sebagai pasanganku tentunya, karena dia sudah melakukannya pada keluarganya, bagaimana menurut pendapat kamu...? "
" Aku tidak tahu, itu terserah kamu, kalau kamu rasa orang tuamu siap, tidak masalah. Tapi maafkan kalau aku salah, menurut pertimbanganku, bapakmu yang kiai itu pasti akan shock berat. Sebaiknya jangan secara frontal memberitahu hubungan kalian, datanglah dulu apa adanya, biarlah Janice menjadi sedikit bagian dari keluargamu, mungkin kedatangan selanjutnya ketika suasana sudah cukup cair, baru kamu bilang terus terang".
Aku memeluk Ahmad, dia rupanya kali ini yang kaget....
"Terima kasih ya......."
tubuh Ahmad begitu hangat, tiba2 saja aku mengarahkan bibirku ke bibirnya, dia semula mengelak ke belakang, tapi aku segera menarik tubuhnya kembali.
"Kamu gila ya.." bisik Ahmad pelan-pelan.
"Cinta itu tidak sesederhana yang kita rasa" aku kembali memagut bibirnya.

* penghuni panti jompo
** dari kata komunal, mengutamakan kepentingan orang banyak.
*** oligark, seorang yang berjiwa oligarki (pemerintahan berada di sebagian kecil segmen masyarakat)
**** secara harfiah berarti perbuatan kaum nabi Luth, yaitu homoseksual.
***** Dengan Ahmad...., budaya di Belanda ketika mengangkat telpon, langsung menyebut nama.
****** Sampai malam nanti
******* Selamat Malam Sayang
******** Silahkan Masuk Kasihku
********* Sejenis pasta, bisa juga disebut fetuccini



SUMBER : @ZIARAH KE MAKAM TUHAN BY M. AMIN

Selasa, 06 Desember 2011

Sanggupkah Tuhan Menerima Musibah

Sudah lama aku tidak bertemu Mbah Maridjan, dikarenakan aku harus pergi ke luar kota menuntut ilmu. Setelah gempa di Jogja yang membikin hati miris itu, pesantren tempat aku belajar libur, semua santri disuruh pulang. Aku segera teringat Mbah Maridjan, bagaimana kabar orang tua itu yang dulu sering mengajari aku filsafat Jawa. 
 
Tergopoh2 aku menemui Mbah Maridjan, kucari tadi di rumahnya beliau tidak ada. Setengah berlari aku menyusuri pematang sawah yang masih agak basah, sambil sesekali menghirup aroma batang padi yang merasuk. Kata tetangga Mbah Maridjan, beliau sering menyendiri di gubug di tengah sawah kalau sore2 begini. Dari jauh sudah kulihat gubug kecil beratapkan daun kelapa dan damen ( batang padi kering). Setelah dekat, kulihat Mbah Maridjan yang sedang menyalakan rokok lintingannya. Baunya menyengat, tetapi segar apalagi ditambah suasana sore yang semilir. 
 
Mbah, Mbah, bagaimana ini Mbah, musibah datang silih berganti, sepertinya sudah waktunya kita melakukan tobat nasional. Mbah Maridjan malah tenang2 saja” 
 
Musibah itu bisa jadi rahmat, sebagaimana rahmat juga bisa jadi musibah. Ini hanya kejadian alam biasa Le.” 
 
Gimana sih Mbah, musibah ini peringatan dari Tuhan Mbah atas dosa2 kita, sekaligus juga ujian apakah kita tabah menghadapi musibah.” 
 
Tuhan pun tak sanggup menerima musibah, Le” 
 
Aku seperti ditampar langsung di otakku, apa pula maksud Mbah Maridjan ini. 
 
Hhhmm, maksud Mbah Maridjan…?” 
 
Tuhan itu Le, baru diduakan saja sudah marah2, baru perintahnya tidak dilaksanakan saja sudah ngirim bencana, lha piye…Tuhannya saja nggak tabah, ciptaannya bisa lebih gak tabah lagi” 
 
Sebentar2, aku masih tidak mengerti apa maksud Mbah Maridjan.” 
 
Kamu ini pancen bodho Le, kamu ingat kisah Adam dan Hawa, yang dikeluarkan dari surga hanya karena makan buah Khuldi yang terlarang itu, itu kan kesalahan sepele, tapi Tuhan marah, terus Adam dan Hawa ditundung dari surga. Terus kamu ingat kisah Iblis dan Adam, Iblis disuruh menghormati Adam, suruh sujud di depan Adam, lha wong Iblis itu pinter, ya dia nggak mau, dia hanya mau sujud dan hormat kepada Tuhan, lagi2 Tuhan marah, purik, akhirnya Iblis dilaknat. Ingat pulakah kau tentang Sodom dan Gomora, hanya karena homoseksualitas saja seluruh kota dihancurkan. Tuhannya saja kurang dewasa, jangan pula salahkan umatnya kalau kekanak2an. “ 

 
Aku hanya bengong, mendengarkan tutur kata Mbah Maridjan yang mengalir sambil mengepulkan asap rokok kretek di jari2 tangannya. Sungguh2 gila Mbah Maridjan ini, berani2nya menggoyang tahta diktatur Tuhan. 
 
Aceh sudah lebur, Jogja sudah hancur, Merapi njeblug, kita harus lebih banyak berdoa Mbah Maridjan, supaya Tuhan mengampuni dosa2 kita.” 
 
Hahahahahaha…………………..” 
 
Mbah Maridjan tertawa terkekeh2, sampai terbatuk2, sambil melihat dengan pandangan lucu kepadaku. 
 
Kamu ini Le, produk jaman modern koq berpikirnya idiot kaya gitu. Kalau banyak orang berdosa, dosa mereka kan kepada alam dan sesama manusia. Minta ampun lah kepada alam, dengan merawat mereka dengan baik, menjadi bagian dari alam bukan malah memperkosanya. Minta ampunlah kepada manusia2, berhenti korupsi, bantulah para fakir miskin, peliharalah yatim piatu, jalankan negara dengan jujur dan bersih. Itu yang namanya mohon ampun, kalau mohon ampunnya cuma sama Tuhan, kamu malah akan ditertawakan sama Dia.” 
 
Ya, tapi Mbah Maridjan, kita perlu pertolongan Tuhan untuk bisa lepas dari derita ini.” 
 
Percayalah Le, Tuhan itu egois. Kita harus membantu diri kita sendiri, kamu boleh minta tolong sampai air matamu habis, tapi kalau kamu tidak memperbaiki dirimu sendiri, ya percuma. Lihat itu orang Jepang, kena gempa mereka itu, tapi terus mereka belajar, bikin gedung dan rumah yang tahan gempa. Lihat orang Belanda, kena banjir banding mereka itu, tapi mereka bangkit, bikin dam2 raksasa, sekarang selamatlah mereka dari petaka banjir. Lihat orang2 Eropa, dikaruniai penyakit pes, sampai separuh penduduknya mati, tapi mereka memperbaiki diri, dan hidup sehatlah mereka sekarang. Bencana itu untuk dipelajari, bukan untuk disesali.” 
 
Dongkol hatiku bukan main sama Mbah Maridjan, dari dulu dia selalu bisa membolak-balik perpektif. Dan dia sudah berani mempermainkan syaraf otakku sekarang, tapi aku berusaha menguasai diriku. 
 
Mbah, kita ini manusia yang egois. Tuhan telah menciptakan alam dengan sempurna, dan menitahkan kita sebagai kalifahnya di dunia ini. Kitalah yang telah tidak sanggup memegang amanat Tuhan itu.” 
 
Mbah Maridjan kembali meringis, seolah mengejek. Matanya yang kecil bulat itu menatap jauh ke hamparan sawah di depannya. 
 
Oalah Le, kalau mau jujur sih. Karena konsep Tuhan itu diejawantahkan oleh manusia yang egosentris, akhirnya manusia tambah kelihatan egois. Seharusnya kau yang sekolah itu tahu hal kayak gitu, dan itu pandangan antroposentrismu, kuno sekali cara berpikirmu Le. Manusia itu bagian alam Le, bukan penguasa alam.” 
 
Ya biarin Mbah, pandangan antroposentris kan lebih baik daripada percaya hal2 mistis kaya sampeyan, ada Nyi Roro Kidul, Tombak Kiai Plered, Kebo Kiai Slamet hahahaha………., kebo koq dianggep kiai.”

Lho siapa bilang Mbah percaya sama Nyi Roro Kidul, Nyi Roro Kidul itu kan cuman mitos Le, para kawulo cilik seperti kita ini kan sering ditipu sama para penggede2 istana. Raja2 Mataram jaman dulu malu karena di Segoro Lor (Laut Jawa= red) mereka kalah dengan tentara Kumpeni Walanda dan tentara Portugis, jadi mereka menghibur diri dengan menciptakan mitos Nyi Roro Kidul, seolah2 mereka masih menguasai Segoro Kidul (Samudra Hindia= red), memperistri penguasa Segoro Kidul. Cilokone, kita semua percaya adanya Nyi Roro Kidul, kekuatan pusaka2, kita ini memang bodho koq Le, wis bodho mbodhoni wong mesisan.” 
 
Lagi2 Mbah Maridjan bikin aku klenger, dia bilang dia tidak percaya Nyi Roro Kidul, ngoyoworo (mengada2) saja Mbah tua satu ini. 
 
Mbah, musibah demi musibah ini menyelimuti kita, kita harus bergerak Mbah.” 
 
Simbah di sini saja Le, mengabdikan diri untuk penduduk Merapi. Kamu yang masih muda yang harus bergerak, sadarkan orang dari tidurnya, sadarkan orang dari sikap fatalis menghadapi musibah. Sudah sana, belajar yang bener, santri kalau kerjaannya main PS terus ya kayak kamu ini jadinya. Ilmune nggedabus, pangertene mbladhus. Belajar sana bagaimana mengatur bantuan yang tepat guna dan tepat sasaran, jangan hanya kitab kuning kau pelajari, kitab putih pun harus kau pelajari, dan jangan lupa sekarang banyak kitab digital yang bisa dipelajari.“

Sambil menggerakkan tangannya menyuruh aku pergi, Mbah Maridjan merogoh sakunya, dikeluarkannya selembar duit 50 ribu. 
 
Ini hanyalah lembaran 50 ribuan Le, kuserahkan padamu. Duit ini akan benar2 jadi milikmu kalau kamu memberikannya kepada yang membutuhkan, banyak itu sepanjang kaki Merapi.” 
 
Dilemparkannya duit itu kepadaku, aku mengambilnya sambil bingung memikirkan apa maksud kata2 Mbah Maridjan yang terakhir tadi.



SUMBER : @ZIARAH KE MAKAM TUHAN BY M. AMIN






Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...